Sindroma Da Costa " Penyakit Jantung " Yang Mematikan

Evogood.com Kuantum adalah paket energi dari gelombang yang tidak tampak oleh pancaindra. Menjelaskan sesuatu yang tidak kasat-mata dengan istilah kuantum adalah sesuatu yang mencerahkan.” Demikian keterangan Renan Sukmawan, seorang insinyur nuklir, dokter-doktor, dan kardiolog-peneliti yang bekerja di Fak. Kedokteran UI dan RSJPD Harapan Kita. Sepertinya ia merujuk mekanika modernnya fisikawan Erwin Schrödinger (1925). Tentu saja gelombang air laut jelas nampak dan nyata karena orang dapat berselancar diatasnya.



Sindroma Da Costa (Da Costa’s syndrome, Cardiac neurosis)  adalah prototipe penyakit berkeluhan jantung tetapi kardiolog tidak dapat menemukan penyakit jantungnya. Tidak mudah menyerahkan pasien model ini ke ahli jiwa (psikolog, psikiater) sebab ia merasa sakit jantung dan bukan sakit jiwa! Rasanya banyak kardiolog yang belum pernah menulis diagnosis Sindroma Da Costa, padahal WHO sudah menyiapkan kodenya pada ICD sejak awal abad ke XX. Pertengahan abad XX berubah menjadi neurosis jantung. Pada awalnya diklasifikasikan sebagai “F45.3” (dibawah kode somatoform disorder dari sistim kardiovaskuler) pada ICD-10, dan sekarang diklasifikasikan pada “somatoform autonomic dysfunction” (suatu tipe dari kelainan psikosomatik).

Tulisan ini semoga sebagai “penggugah” bangun paginya kita semua agar memperhatikan sindroma ini, sebab kita memiliki kardiolog yang handal dengan kompetensi dan penguasaan teknologinya yang dapat meyakinkan orang lain untuk menegakkan diagnosis sindroma Da Costa Serta memiliki psikolog untuk menanganinya. Tidak terlalu sulit bagi kardiolog untuk mendiagnosisnya, tetapi juga tidak mudah untuk mengerti apalagi melakukan psikoterapi, bila diperlukan. Untuk urusan psikoterapi, serahkan saja kepada ahlinya. 

Tetapi pengetahuan tentang sindroma ini wajib diketahui dari menegakkan diagnosis sampai rencana penatalaksanaannya. Diperlukan kolaborasi kardiolog, psikolog, psikiater, dan ahli psikosomatik untuk menanggulanginya. Penulis memberi semangat agar kardiolog senantiasa berholistik-ekliktik (memilih yang terbaik), berholistik saja terasa masih kurang, sesuai anjuran dari Prof. Kusumanto Setyonegoro, Bapak Psikiatri Indonesia.

Marilah kita berwawasan psikologi, tanpa harus menjadi psikolog, 
berwawasan psikiatri tanpa harus menjadi psikiater. Bahkan harus “rajin” mengirim klien-sehat jantung (Da Costa’s syndrome) kepada psikolog klinik atau psikiater, dan jangan diperiksa macam-macam yang terlalu canggih karena sesungguhnya ia bukan pasien-sakit jantung.

Proklamasi. Di sini pentingnya membedakan klien-sehat dan pasien-sakit jantung. “Klien-sehat jantung adalah domain utama Kardiologi Sosial” adalah ayat-ayat ‘Proklamasi’ Budhi S Purwo tanggal 25 Juni 1993, hampir 20 tahun yang lalu, setelah mendapat koreksi dari alm. Prof. R. Boedi-Darmojo dengan menyisipkan kata “utama”. Tulisan tersebut bertepatan dengan dimuatnya tulisan penulisnya pada kolom depan Essay BIDI, Berita Ikatan Dokter Indonesia No. 12 Tahun ke XIV dengan judul: Klien dan Rumah Sakit yang Health Oriented. 

Menanggapi dan menyambut seruanGerakan Masyarakat Baru agar kita semua Health Oriented sesuai dengan seruan KOnggres NASional ke VII IAKMI (Ikatan Akhli Kesehatan Masyarakat Indonesia) di Bandung 1992. Baru tujuh tahun kemudian muncul Visi Indonesia Sehat 2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia dimana penduduknya hidup di lingkungan sehat, berperilaku sehat, mampu memperoleh pelayanan kesehatan bermutu, serta adil merata dengan derajat kesehatan optimal.

Apakah Kardiologi Sosial sudah mati hanya karena “badan”-nya atau unitnya telah lama “dikuburkan” di RSJHK dan Dep. Kardiologi FKUI? Tidak, karena ada mekanisme metamorphosis. Kardiologi Kuantum harus dapat menjawab ketika ada pertanyaan apakah manusia (baca jantung) organo-biologis juga lantas “mati” ketika badannya (jasmani kasarnya) di kuburkan? Freud menjawab YA, titik. Terbujurnya mayat di depan mata sekaligus menandakan sudah matinya sang Ego! Carl Gustav Jung dan Soemantri Hardjoprakoso dalam Candra Jiwa Indonesia menjawab TIDAK, tetapi ada kemungkinan lain. 

Hipotesisnya adalah lolosnya sang Ego melaui TheGate ke Pusat Imateri yang mengandung hidup itu sendiri. Anggap saja wacana ini adalah hipotesis ilmu pengetahuan yang rentang kebenarannya 0-100, dengan confidence interval statistiknya dapat di kompromikan, misalnya 95% CI dengan probabilitas tertentu, mengikuti jejak ilmu statistik. Ilmu theology dapat mengenal kebenaran sebagai ya dan tidak (0-1) berdasarkan WAHYU Ketuhanan.