Pacaran Beda Agama Bagaikan "Air" dan "Minyak"

Evogood.com Kita semua tahu bahwa air dan minyak itu tidak dapat bersatu. Mau dicampur atau dikocok dengan apapun mereka tidak dapat menyatu. Hal ini jadi gambaran buat kita dalam memilih pasangan hidup. Pacaran merupakan sebuah komitmen bukan sekedar main-main. Maka dari itu memilih pasangan hidup itu sangat penting, pilihlah pasangan yang seiman dengan kita.Kehidupan itu kita yang menjalani. Jangan salahkan Tuhan untuk keputusan yang kamu ambil . Karena Tuhan sudah memberikan aturan untuk menjagai kamu dan bukan untuk membuat kamu menderita.


Memang si doi tidak memandang bulu untuk menembakkan panah asmaranya. Tidak memandang latar belakang agama,tingkat kehormatanya,suku bahkan status social. Cinta dapat dirasakan bagi dua insan yang berbeda agama sekalipun, karena cinta bersifat universal. Karena, semua orang pernah mengalami manis dan getirnya cinta. Apalagi kita hidup di Indonesia yang kaya akan budaya.

Yang perlu diketahui bagi para pasangan berbeda agama, ada begitu banyak resiko yang harus diambil. Dengan mengatasnamakan cinta bisa membuat semakin kuat atau malah melemahkan? Agama menjadi pondasi dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Pada dasarnya agama mengajak pada kebaikan. 




Akan tetapi, ada faktor-faktor lain yang membuat agama menjadi seolah-olah kaku dan saling menyalahkan, sehingga harus ada hati yang terkorbankan. Agama merupakan komitmen seseorang dengan Tuhannya, sehingga landasan itulah yang menjadikan seseorang terus mempertahankan keyakinan terhadap ketuhanannya. Sehingga, terkadang hati pun terkalahkan.

Jika Anda mengalami hal yang sama seperti di atas, maka Anda dan pasangan harus pandai dalam menyikapi keadaan. Dengan cara pertama, bercerminlah apakah Anda termasuk orang yang religius? Jika iya, maka Anda dan pasangan harus siap menghadapi segala pertentangan terkait prinsip-prinsip ajaran agama dengan bijak dan kepala dingin.




Kedua, yakinkan diri apakah Anda atau pasangan termasuk tipe penurut atau penentang keluarga? Perhatikan hubungan relasi Anda dengan keluarga.

Ketiga, saling terbuka dengan pasangan. Pasangan Anda berhak tahu hubungan Anda dengan keluarga Anda seperti apa. Terkadang kelamaan mengalami konflik dalam hubungan membuat salah satu pasangan memutuskan untuk menjalin hubungan diam-diam. Atau bahkan ada yang memiliki ‘cadangan’ di luar sana?

Kehidupan yang menjalani adalah diri kita sendiri, Jadi kita harus berani mengambil resiko. Memang harus ada pihak yang dimenangkan dan dikorbankan. Karena, kita tidak bisa memuaskan semua pihak. Pertimbangkan kembali keputusan yang telah Anda ambil dan lanjutkan kehidupan Anda sesuai dengan keputusan bijak Anda.